Blogroll

Pages

Rabu, 28 Desember 2011

Model-Model pembelajaran


MAKALAH
MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
Mata Kuliah: Perencanaan  Pembelajaran
Dosen Pembimbing: Dr. Wartono

DISUSUN OLEH:
                     BLASIUS MOA                    : 080401070003



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS KANJURUHANMALANG
MARET 2011


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Belajar pada hakikatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada disekitar individu. Belajar dapat dipandang sebagai proses  yang diarahkan kepada tujuan dan proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Kegiatan pembelajaran dilakukan oleh dua orang pelaku, yaitu guru dan siswa. Perilaku guru adalah mengajar dan perilaku siswa adalah belajar. Perilaku mengajar dan perilaku belajar tersebut tekait dengan bahan pembelajaran. Bahan pembelajaran dapat berupa pengetahuan, nilai-nilai kesusilaan, seni, agama, sikap dan keterampilan. Untuk mencapai keberhasilan dalam kegiatan pembelajaran, terdapat beberapa komponen yang dapat menunjang yaitu, komponen tujuan, komponen materi, komponen strategi belajar mengajar dan komponen evaluasi.
Pembelajaran merupakan suatu sistem yang terdiri atas berbagai komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lain. Komponen tersebut meliputi: tujuan, materi, metode, dan evaluasi. Keempat komponen pembelajaran tersebut hars diperhatikan oleh guru dalam memilih dan menentukan model-model pembelajaran apa yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
Model-model pembelajaran biasanya disusun berdasarkan berbagai prinsip atau teori sebagai pijakan dalam pengembangannya. Para ahli menyusun model pembelajaran berdasarkan prinsip-prinsip pendidikan, teori-teori psikologis, sosiologis, psikiatri, analisis sisten atau teori-teori lain.

B.     PERUMUSAN MASALAH
Adapun beberapa masalah yang menjadi pokok pembahasan terkait dengan model-model pembelajaran yaitu, sebagai berikut:
1.      Bagaimana penggunaan model kontekstual dalam PBM?
2.      Bagaimana penggunaan model kooperatif dalam PBM?
3.      Bagaimana penggunaan model tematik dalam PBM?
4.      Bagaimana penggunaan model e-learning dalam PBM?
5.      Bagaimana penggunaan model lesson study dalam PBM?

C.    TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini untuk memperoleh pendeskripsian atau penjelasan dari berbagai model-model pembelajaran yang diterpapar pada rumusan masalah diatas, serta penerapannya dalam proses belajar mengajar yang cocok dan sesuai dengan materi pembelajaran yang dipilih dan disiapkan untuk disampaikan kepada siswa. 
BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN MODEL PEMBELAJARAN

Model pembelajaran biasanya disusun berdasarkan berbagai prinsip atau teori pengetahuan. Para ahli menyusun model pembelajaran berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran, teori-teori psikologis, sosiologis, analisis system, atau teori-teori lain yang mendukung. Joyce dan Weil mempelajari model-model pembelajaran berdasarkan teori belajar yang dikelompokkan menjadi empat model pembelajaran. Model tersebut merupakan pola umum perilaku pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Joyce dan Weil berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran dikelas atau yang lain. Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya.

B.     DASAR PERTIMBANGAN PEMILIHAN MODEL PEMBELAJARAN

Sebelum menentukan model pembelajaran yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajara, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan guru dalam memilihnya, yaitu:
1.      Pertimbangkan terhadap tujuan yang hendak dicapai. Pertanyaan yang dapat diajukan adalah:
a.       Apakah tujuan pembelajaran yang ingin dicapai berkenaan dengan kompetensi akademik, kepribadian, sosial dan kompetensi vokasional atau yang dulu diistilahkan dengan domain kognitif, afektif atau psikomotorik?
b.      Bagaimana kompleksitas tujuan pembelajaran yang ingin dicapai?
c.       Apakah untuk mencapai tujuan itu memerlukan ketrampilan akademik?
2.      Pertimbangkan yang berhubungan dengan bahan atau materi pembelajaran:
a.       Apakah materi pelajaran itu berupa fakta, konsep, hukum atau teori tertentu?
b.      Apakah untuk mempelajari materi pembelajaran itu memerlukan prasyarat atau tidak?
c.       Apakah tersedia bahan atau sumber-sumber yang relevan untuk mempelajari materi itu?
3.      Pertimbangkan dari sudut peserta didik atau siswa
a.       Apakah model pembelajaran sesuai dengan tingkat kematangan peserta didik?
b.      Apakah model pembelajaran itu sesuai dengan minat, bakat, dan kondisi peserta didik?
c.       Apakah model pembelajaran itu sesuai dengan gaya belajar peserta didik?
4.      Pertimbangkan lainnya yang bersifat non teknis
a.       Apakah untuk mencapai tujuan hanya cukup dengan satu model saja?
b.      Apakah model pembelajaran yang kita tetapkan dianggap satu-satunya model yang dapat digunakan?
c.       Apakah model pembelajaran itu memiliki nilai efektivitas atau efisiensi?

C.    POLA-POLA PEMBELAJARAN

Belajar adalah proses perubahan tingkah laki individu sebagai hasil dari pengalamannya dalam berinteraksi dengan lingkungan. Belajar bukan hanya sekedar menghapal, melainkan suatu proses mental yang terjadi dalam diri sesorang.
Pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu proses interaksi antara guru dengan siswa, baik interaksi secara langsung seperti kegiatan tatap muka maupun secara tidak langsung, yaitu dengan menggunakan berbagai media pembelajaran. Didasari oleh adanya perbedaan interaksi tersebut, maka kegiatan pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai pola pembelajaran.
Barry Morris (1963:11) mengkalsifikasikan empat pola pembelajaran yang digambarkan dalam bentuk bagan sebagai berikut:
                                                                                                                               
















 



3.     
D.    CIRI-CIRI MODEL PEMBELAJARAN
Model pembelajaran memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar dari para ahli tertentu.
2.      Mempunya misi dan tujuan pendidikan tertentu
3.      Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan kegiatan belajar mengajar di kelas
4.      Memiliki bagian-bagian model
5.      Memiliki dampak sebagai akibat terapan model pembelajaran
6.      Membuat persiapan mengajar dengan pedoman model pembelajaran yang dipilihnya.

E.     MACAM-MACAM MODEL PEMBELAJARAN
1.      MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING)
1. Konsep dasar pembelajaran kontekstual
Pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang dapat membantu guru mengaitkann antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat ( Nurhadi 2002).
CTL memungkinkan siswa menghubungkan isi mata pelajaran akademik dengan kontek kehidupann sehari-hari untuk menemukan makna. CTL memperluas konteks pribadi siswa lebih lanjut melalui pemberian pengalaman segar yang akan merangsang otak guna menjalin hubungan baru untuk menemukan makna yang baru( Johnson,2002).
Sementara itu, Howey R, Keneth, (2001) mendefinisikan CTL sebagai berikut:
Melalaui pembelajaran kontekstual mengajarar bukan transformasi pengetahuan dari guru kepada siswa dengan menghafal sejumlah konsep-konsep yang sepertinya terlepas dari kehidupan nyata, akan tetapi lebih ditekankan pada upaya memfasilitasi siswa untuk mencari kemampuan sisa hidup(life skill) dari pada yang dipelajarinya.   Dengan demikian, pembelajaran akan lebih bermakna, sekolah lebih dekat dengan lingkungan masyarakat(bukan dekat dari segi fisik). Akan tetapi secara fungsional apa yang dipelajari disekolah senantiasa bersentuhan dengan situasi dan permasalahan kehidupan yang terjadi di lingkungannya (keluarga dan masyarakat).
Ciri khas CTL ditandai oleh 7 komponen utama yaitu:
1.      Konstruktifism
2.      Inkuiri
3.      Questioning
4.      Learning community
5.      Modelling
6.      Reflection
7.      Authentic assesment

Pada intinya pengembangan setiap komponen CTL tersebut dalam pembelajaran dapat dilakukan melaui langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Mengembangkan pemikiran siswa untuk melakukan kegiatan belajar lebih  bermakna, apakah dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru yang akan dimiliknya.
2.      Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua topik yang akan diajarkan
3.      Mengembangkan sifat ingin tahu siswa melalui memunculkan pertanyaan-pertanyaan.
4.      Menciptakan masyarakat belajar, seperti melakukan kegiatan kelompok berdiskusi, tanya jawab dan lain sebagainya.
5.      Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran, bisa melalui ilustrasi, model, bahkan media yang sebenarnya
6.      Membiasakan anak untuk melakukan refleksi dari setiap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan
7.      Melakukan penilaian secara objektif, yaitu menilai kemampuan yang sebenarnya pada setiap siswa.

2.      Komponen Pembelajaran Kontekstual
Komponen pembelajaran kontekstual meliputi:
a.       Menjalin hubungan-hubungan yang bermakna (making meaningful connections)
b.      Mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang berarti (doing significant word)
c.       Melakukan proses belajar yang diatur sendiri (self-regulated learning)
d.      Mengadakan kolaborasi(collaborating)
e.       Berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking)
f.       Memberikan layanan secara individual (nurturing the individual)
g.      Mengupayakan pencapaian standar yang tinggi (reaching high standards)
h.      Menggunakan asesmen autentik (using authentic assessment)

3.      Prinsip Pembelajaran Kontekstual
Ada tujuh prinsip pembelajaran kontekstual yang harus dikembangkan oleh guru, yaitu:
a.      Kontruktivisme (constructivism)
Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) dalam CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas.
Dalam CTL, strategi untuk membelajarkan siswa menghubungkan antara setiap konsep dengan kenyataan merupakan unsur yang diutamakan dibandingkan dengan  penekanan terhadap seberapa banyak pengetahuan yang harus diingat oleh siswa. Implikasi bagi guru dalam mengembangkan tahap konstruktivisme ini terutama dituntut kemampuan untuk membimbing siswa mendapatkan makna dari setiap konsep yang dipelajarinya.
   Pembelajaran akan dirasakan memiliki makna apabila secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan pengalaman sehari-hari yang dialami oleh para siswa itu sendiri. Oleh karena itu, setiap guru harus memiliki bekal wawasan yang  cukup luas, sehingga dengan wawasannya itu ia selau dengan mudah memberikan ilustrasi, meggunakan sumber belajar, dan media pembelajaran yang dapat merangsang siswa untuk aktif mencari dan melakukan serta menemukan sendiri kaitan antara konsep yang dipelajari dengan pengalamannya. Dengan cara itu, pengalaman belajar siswa akan memfasilitasi kemampuan siswa untuk melakukan transformasi terhadap pemecahan masalah lain yang memiliki sifat keterkaitan, meskipun terjadi pada ruang dan waktu yang berbeda.

b.      Menemukan (inquiry)
Menemukan , merupakan kegiatan inti dari CTL, melalui upaya menemukan akan memberikan penegasan bahwa pengetahuan dan ketrampilan serta kemampuan-kemampuan lain yang diperlukan  bukan merupakan hasil dari mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi merupakan hasil menemukan sendiri. Kegiatan pembelajaran yang mengarah pada upaya menemukan, telah lama diperkenalkan pula dalam pembelajaran inquiry and discovery (mencari dan menemukan).

c.       Bertanya (questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. Oleh karena itu, bertanya merupakan strategi utama dalam CTL. Penerapan unsur bertanya dalam CTL harus difasilitasi oleh guru, kebiasaan siswa untuk bertanya atau kemampuan guru dalam menggunakan pertanyaan yang baik akan mendorong pada peningkatan kualitas dan produktivitas pembelajaran. Dalam implementasi CTL, pertanyaan yang diajukan oleh guru atau siswa harus dijadikan alat atau pendekatan untuk menggali informasi atau sumber belajar yang ada kaitannya dengan kehidupan nyata.
   Melalui penerapan bertanya, pembelajaran akan lebih hidup, akan mendorong proses dan hasil pembelajaran yang lebih luas dan mendalam, dan akan banyak ditemukan unsur-unsur terkaityang sebelumnya tidak terpikirkan baik oleh guru maupun oleh siswa. Oleh karena itu, cukup beralasan jika dengan pengembangan bertanya produktivitas pembelajaran akan lebih tinggi karena dengan bertanya, maka:
1.      Dapat menggali informasi; baik administrasi maupun akademik
2.      Mengecek pemahaman siswa
3.      Membangkitkan respons siswa
4.      Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa
5.      Mengetahui hal-hal yang diketahui siswa
6.      Memfokuskan perhatian siswa
7.      Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa
8.      Menyegarkan kembali pengetahuan yang telah dimiliki siswa

d.      Masyarakat belajar (Learning Community)
Maksud dari masyarakat belajar adalah membiasakan siswa untuk melakukan kerja sama dan memanfaatkan sumber belajar dari teman-teman belajarnya. Seperti yang disarankan dalam learning community, bahwa hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain melalui berbagai pengalaman (sharing). Melalui sharing ini anak dibiasakan untuk saling memberi dan menerima, sifat ketergantungan yang positif dalam learning community yang dikembangkan.
Kebiasaan penerapan dan mengembangkan masyarakat belajar dalam CTL sangat dimungkinkan dan dibuka dengan luas memanfaatkan masyarakat belajar lain diluar kelas. Setiap siswa mestinya dibimbing dan diarahkan untuk mengembangkan rasa ingin tahunya melalui pemanfaatan sumber belajar secara luas yang tidak hanya disekat oleh masyarakat belajar di dalam kelas, akan  tetapi sumber manusia lain diluar kelas (keluarga dan masyarakat). Ketika kita dan siswa dibiasakan untuk memberikan pengalaman yang luas kepada orang lain, maka saat itu pula kita atau siswa akan mendapatkan pengalaman yang lebih banyak dari komunitas lain.

e.       Pemodelan (modelling)
Guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar bagi siswa, karena dengan segala kelebihan dan keterbatasan yang dimiliki oleh guru akan  mengalami hambatan untuk memberikan pelayanan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan siswa yang cukup heterogen. Oleh karena itu, tahap pembuatan  model dapat dijadikan alternatif untuk mengembangkan pembelajaran agar siswa bisa memenuhi harapan siswa secara menyeluruh, dan membantu mengatasi keterbatasan yang dimiliki oleh para guru.

f.        Refleksi (reflection)
Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru terjadi atau baru saja dipelajari. Atau refleksi adalah berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa lalu, siswa mengendapakan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Pada saat refleksi, siswa diberi kesempatan untuk mencerna, menimbang, membandingkan, menghayati, dan melakukan diskusi dengan dirinya sendiri ( learning to be).
   Melalui  model CTL, pengalaman belajar bukan hanya terjadi dan dimilki ketiak  bagaimana  membawa pengalaman belajar tersebut keluar dari kelas, yaitu pada saat ia dituntut untuk menanggapi dan memecahkan permasalahan nyata yang dihadapi sehari-hari.

g.      Penilaian sebenarnya (authentic assesment )
Penilaian sebagai bagian integral dari pembelajaran memiliki fungsi yang amat menentukan untuk mendapatkan informasi kualitas proses dan hasil pembelajaran melalui CTL. Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data dan informasi yang bisa memberikan gambaran atau petunjuk terhadap pengalaman belajar siswa. Mengingat gambaran tentang kemajuan belajar siswa diperlukan selama proses pembelajaran, maka penilaian tidak hanya dilakukan di akhir program pembelajaran, akan tetapi secara integral dilakukan selama proses program pembelajaran itu terjadi.
   Proses pembelajaran dengan menggunakan CTL harus mempertimbangkan karakteristik-karakteristik:
1.      Kerja sama
2.      Saling menunjang
3.      Menyenangkan dan tidak membosankan
4.      Belajar dengan bergairah
5.      Pembelajarn terintegrasi
6.      Menggunakan berbagai sumber
7.      Siswa aktif
8.      Sharing dengan teman
9.      Siswa kritis guru kreatif
10.  Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa
11.  Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa dll

4.      Skenario Pembelajaran Kontekstual
Sebelum melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan CTL, tentu saja terlebih dahulu guru harus membuat desain (skenario) pembelajarannya, sebagai pedoman umum dan sebagai alat kontrol dalam pelaksanaannya. Pada intinya pengembangan setiap komponen CTL tersebut dalam pembelajaran dapat dilakukan sebagai berikut:
a.       Mengembangkan pemikiran siswa untuk melakukan kegiatan belajar lebih bermakna apakah dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru yang harus dimilikinya.
b.      Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua topik yang diajarkan.
c.       Mengembangkan sifat ingin tahu siswa melalui memunculkan pertanyaan-pertanyaan.
d.      Menciptakan masyarakat belajar, seperti melalui kegiatan kelompok berdiskusi, tanya jawab, dan lain sebagainya.
e.       Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran, bisa melalui ilustrasi, model, bahkan media sebenarnya.
f.       Membiasakan anak untuk melakukan refleksi dari setiap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan
g.      Melakukan penilaian secara objektif, yaitu menilai kemampuan yang sebenarnya pada setiap siswa.

Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang oleh guru, yaitu dalamm bentuk skenario tahap demi tahap tentang apa yang dilakukan bersama siswa selama berlangsungnya proses pembelajaran. Dalam program tersebut harus tercermin penerapan dari ketujuh komponen CTL dengan jelas, sehingga setiap guru memilki persiapan yang utuh mengenai rencana yang akan dilaksanakan dalam membimbing kegiatan belajar-mengajar di kelas.

2.      MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
1.      Konsep Dasar Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.
Dalam pembelajaran ini akan tercipta sebuah interaksi yang lebih luas, yaitu interaksi dan komunikasi yang dilakukan antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan siswa dengan guru.
Dalam sistem  belajar yang kooperatif, siswa belajar bekerja sama dengan anggota lainnya. Dalam model ini siswa memiliki dua tanggung jawab, yaitu mereka belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama anggota kelompokk untuk belajar. Ada unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif yang membedakan dengan pembelajaran kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan prinsip dasar pokok sistem pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas dengan lebih efektif. Dalam pembelajaran kooperatif proses pembelajaran tidak harus belajar dari guru kepada siswa. Siswa saling membelajarkan ssesama siswa lainnya.
Nurulhayati, (2002:25-28), mengemukakan lima unsur dasar model cooperative learning, yaitu:
a.       Ketergantungan yang positif
b.      Pertanggungjawabann individual
c.       Kemampuan bersosialisasi
d.      Tatap muka
e.       Evaluasi proses kelompok

Ada dua komponen pembelajaran kooperatif, yakni cooperative task atau tugas kerja sama dan cooperative incentive structure atau struktur insentif kerja sama. Tugas kerja sama berkenaan dengan suatu hal yang menyebabkan anggota kelompok bekerja sama dalam menyelesaikan tugas yang telah diberikan. Sedangkan struktur insentif kerja sama merupakan sesuatu hal yang membangkitkan motivasi siswa untuk melakukan kerja sama dalam rangka mencapai tujuan kelompok tersebut. Dalam pembelajaran kooperatif adanya upaya peningkatan prestasi belajar siswa dampak penyerta, yaitu sikap toleransi dan menghargai pendapat orang lain.
Pembelajaran kooperatif akan efektif digunakan apabila:
1. guru menekankan pentingnya usaha bersama disamping usaha secara individual
2. guru menghendaki pemerataan perolehan hasil dalam belajar
3. guru ingin menanamkan tutor sebaya atau belajar melalui teman sendiri
4. guru menghendaki adanya pemerataan partisipasi aktif siswa
5. guru menghendaki kemampuan siswa dalam memecahkan berbagai permasalahan. 

2.      Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif
Karakteristik atau ciri-ciri pembelajaran kooperatif dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.      Pembelajaran secara tim
Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran dilakukan secara tim. Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, tim harus mampu membuat setiap siswa belajar. Setiap anggota tim harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran.

b.      Didasarkan pada manajemen kooperatif
Ada tiga fungsi manajemen, yakni:
1.      Fungsi manajemen sebagai perencanaan pelaksanaan menunjukan bahwa pembelajaran kooperatif dilaksanakan sesuai dengan perencanaan, dan langkah-langkah pembelajaran yang sudah ditentukan. Misalnya tujuan pa yang harus dicapai, bagaimana cara mencapainya, apa yang harus digunakan untuk mencapai tujuan, dan lain sebagainya.
2.      Fungsi manajemen sebagai organisasi, menunjukan bahwa pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang matang agar proses pembelajaran berjalan dengan efektif.
3.      Fungsi manajemen sebagai kontrol, menunjukan bahwa dalam pembelajaran kooperatif penting ditentukan kriteria keberhasilan baik melalui bentuk tes maupun non tes.

c.       Kemauan untuk bekerja sama
Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan secara kelompok, oleh karenanya prinsip kebersamaan atau kerja sama perlu ditekankan dalam pembelajaran kooperatif. Tanpa kerja sama yang baik, pembelajaran kooperatif tidak akan mencapai hasil yang optimal.

d.      Ketrampilan bekerja sama
Kemampuan bekerja sama itu dipraktikan melaui aktifitas dalam kegiatan pembelajaran secara berkelompok. Dengan demikian, siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Ciri-ciri yang terjadi pada kebanyakan pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran kooperatif, adalah sebagai berikut:
a.       Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya
b.      Kelompok dibentuk dan siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah
c.       Bilamana munkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda.
d.      Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman dan pengembangan ketrampilan sosial.
            Ada tiga bentuk ketrampilan kooperatif sebagaimana diungkapkan oleh Lundgren (1994), yaitu:
a.      Ketrampilan kooperatif tingkat awal
Meliputi: (1) menggunakan kesepakatan; (2) menghargai kontribusi; (3) mengambil giliran dan berbagi tugas; (4) berada dalam kelompok; (5) berada dalam tugas; (6) mendorong partisipasi; (7) mengundang orang lain untuk berbicara; (8) menyelesaikan tugas pada waktunya; dan (9) menghormati individu.
b.      Ketrampilan kooperatif tingkat menengah
Meliputi: (1) menunjukan penghargaan dan simpati; (2) mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara yang dapat diterima; (3) mendengarkan dengan aktif; (4) bertanya; (5) membuat ringkasan; (6) menafsirkan; (7) mengatur dan mengorganisir; (8) menerima, tanggungjawab; dan (9) mengurangi ketegangan.
c.       Ketrampilan kooperatif tingkat mahir
Meliputi: (1) mengelaborasi; (2) memeriksa dengan cermat; (3) menanyakan kebenaran; (4) menetapkan tujuan; dan (5) berkompromi.

3.      Prinsip-Prinsip Pembelajaran Kooperatif
Menurut Roger dan David Johnson (Lie,2008) ada lima unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif, yaitu sebagai berikut:
a.       Prinsip ketergantungan positif, yaitu dalam pembelajaran kooperatif, keberhasilan dalam penyelesaian tugas tergantung pada  usaha yang dilakukan kelompok tersebut. Keberhasilan kerja kelompok ditentukan oleh kinerja nasing-masing anggota kelompok. Oleh karena itu, semua anggota dalam kelompok akan merasa saling ketergantungan.
b.      Tanggung jawab perseorangan, yaitu keberhasilan kelompok sangat tergantung dari masing-masing anggota kelompoknya. Oleh karena itu, setiap anggota kelompok mempunyai tugas dan tanggungjawab yang harus dikerjakan dalam kelompok tersebut.
c.       Interaksi tatap muka, yaitu memberikan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka melakukan interaksi dan diskusi untuk saling memberi dan menerima informasi dari anggota kelompok lain.
d.      Partisipasi dan komunikasi, yaitu melatih siswa untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi dalam kegiatan pembelajaran.
e.       Evaluasi proses kelompok, yaitu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka, agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih eektif.

4.      Prosedur Pembelajaran Kooperatif
Prosedur atau langkah-langkah pembelajaran kooperatif pada prinsipnya terdiri atas empat tahap, yaitu sebagai berikut:
a.       Penjelasan materi, tahap ini merupakan tahapan penyampaian pokok-pokok materi pelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok. Tujuan utama tahapan ini adalah pemahaman siswa terhadap pokok materi pelajaran..
b.      Belajar kelompok, tahapan ini dilakukan setelah guru memberikan penjelasan materi, siswa bekerja dalam kelompok yang telah dibentuk sebelumnya.
c.       Penilaian, penilaian dalam pembelajaran kooperatif bisa dilakukan melalui tes atau kuis, yang dilakukan secara individu atau kelompok.
d.      Pengakuan tim, adlah penetapan tim yang dianggap paling menonjol atau tim paling berprestasi untuk kemudian diberikan penghargaan atau hadiah, dengan harapan dapat memotivasi tim untuk terus berprestasi lebih baik lagi.





5.      Model-Model Pembelajaran Kooperatif
Ada beberapa variasi jenis model dalam  pembelajarn kooperatif, walaupun prinsip dasar dari pembelajaran kooperatif ini tidak berubah, jenis-jenis model tersebut, adalah sebagai berikut:

1.      Model Student Teams Achievement Division (STAD)
Menurut Slavin (2007) model STAD merupakan variasi pembelajaran kooperatif yang paling banyak diteliti. Dalam STAD, siswa dibagi kelompok beranggotakan empat orang yang beragam kemampuan, jenis kelamin, dan sukunya.
Slavin juga memaparkan bahwa:”Gagasan utama dibelakang STAD adalah memacu siswa agar saling mendorong dan saling membantu satu sama lain untuk mnguasai ketrampilan yang diajarkan oleh guru”. Para siswa diberi waktu untuk bekerja sama setelah pelajaran diberikan oleh guru, tetapi tidak saling membantu.

Langkah-langkah pembelajaran Kooperatif Model STAD
a.       Penyampaian tujuan dan motivasi
Menyampaikan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar

b.      Pembagian kelompok
Siswa dibagi kedalam beberapa kelompok, dimana setiap kelompoknya terdiri dari 4-5 siswa yang memprioritaskan heterogenitas (keragaman) kelas dalam prestasi akaademik, gender/jenis kelamin, ras atau etnik.

c.       Presentasi dari guru
Guru menyampaikan materi pelajaran dengan terlebih dahulu menjelaskan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pertemuan tersebut serta pentingnya pokok bahasan tersebut dipelajari. Di dalam proses pembelajaran guru dibantu oleh media, demonstrasi, pertanyaan atau masalah nyata yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dijelaskan juga tentang ketrampilan dan kemampuan yang diharapkan dikuasai siswa, tugas danpekerjaan yang harus dilakukan serta cara-cara mengerjakannya.

d.       Kegiatan belajar dari Tim (Kerja tim)
Siswa belajar dalam kelompok yang telah dibentuk. Guru menyiapkan lembaran kerja sebagai pedoman bagi kerja kelompok, sehingga semua anggota menguasai dan masing-masing memberikan kontribusi. Selama tim bekerja, guru melakukan  pengamatan, memberikan bimbingan, dorongan dan bantuan bila diperlukan.

e.       Kuis (evaluasi)
Guru mengevaluasi hasil belajar melalui pemberian kuis tentang materi yang dipelajari dan juga melakukan penilaian terhadap presentasi hasil kerja masing-masing kelompok. Siswa diberikan kursi secara individual dan tidak dibenarkan bekerja sama. Ini dilakukan untuk  menjamin agar siswa secara individu bertanggung jawab kepada diri sendiri dalam memahami bahan ajar tersebut. Guru menetapkan skor batas penguasaan untuk setiap soal, misalnya 60, 75, 84, dan seterusnya.

f.       Penghargaan Prestasi Tim
Pemberian penghargaan atas keberhasilan kelompok dapat dilakukan oleh guru dengan melakukan tahapan-tahapan sebagai berikut:
Ø  Menghitung skor individu
Ø  Menghitung skor kelompok
Ø  Pemberian hadiah dan pengakuan skor kelompok

2.      Model Jigsaw
Arti Jigsaw dalam bahasa Inggris adalah gergaji ukir dan ada juga yang menyebutnya dengan istilah puzzle yaitu sebuah teka-teki menyusun potongan gambar. Pada dasarnya, dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen lebih kecil. Selanjutnya guru membagi siswa kedalam kelompok belajar kooperatif yang terdiri dari empat orang siswa sehingga setiap anggota bertanggungjawab terhadap penguasaan setiap komponen/sub tupik yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya. Siswa dari masing-masing kelompok yang bertanggungjawab terhadap sub topik yang sama membentuk kelompok  lagi yang terdiri atas dua atau tiga orang.
Siswa-siswa ini akan bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya dalam:
a.       Belajar dan menjadi ahli dalam sub topik bagiannya.
b.      Merencanakan bagaimana mengajarkan subtopik bagiannya kepada anggota kelompoknya semula.
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
a.        Siswa dikelompokan dengan anggota ± 4 orang
b.      Tiap orang dalam tim diberi materi dan tugas yang berbeda
c.       Anggota dari tim yang berbeda dengan penugasan yang sama membentuk kelompok baru (kelompok ahli)
d.      Setelah kelompok ahli berdiskusi, tiap anggota kembali ke kelompok asal dan menjelaskan kepada anggota kelompok tentang subbab yang mereka kuasai
e.       Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
f.       Pembahasan
g.      Penutup

Dalam model kooperatif jigsaw ini siswa memiliki banyak kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan mengola informasi yang didapat dan dapat meningkatkan ketrampilan berkomunikasi, anggota kelompok bertanggungjawab terhadap keberhasilan kelompoknya dan ketuntasan bagian materi yang dipelajari dan dapat menyampaikan informasinya kepada kelompok lain.
Jhonson, melakukan penelitian tentang pembelajaran kooperatif model Jigsaw yang hasilnya menunjukan bahwa hasil interaksi kooperatif memiliki berbagai pengaruh positif terhadap perkembangan anak. Pengaruh positif tersebut adalah:
a.       Meningkatkan hasil belajar
b.      Meningkatkan daya ingat
c.       Dapat digunakan untuk mencapai tarap penalaran tingkat tinggi
d.      Mendorong tumbuhnya motivasi intrinsik (kesadaran individu)
e.       Meningkatkan hubungan antara manusia yang heterogen
f.       Meningkatkan sikap anak yang positif terhadap sekolah
g.      Meningkatkan sikap positif terhadap guru
h.      Meningkatkan harga diri anak
i.        Meningkatkan perilaku penyesuaian sosial yang positif, dan
j.        Meningkatkan ketrampilan hidup bergotong-royong

Pembelajaran model Jigsaw ini dikenal juga dengan kooperatif para ahli. Karena anggota setiap kelompok dihadapkan pada permasalahan yang berbeda. Tetapi permasalahan yang dihadapi setiap kelompok sama, kita sebut sebagai tim ahli yang bertugas membahas permasalahan yang dihadapi, selanjutnya hasil pembahasan itu dibawa ke kelompok asal dan disampaikan pada anggota kelompoknya.
Kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a.       Melakukan membaca untuk menggali informasi. Siswa memperoleh topik-topik permasalahan untuk dibaca, sehingga mendapatkan informasi dari permasalahan tersebut.
b.      Diskusi kelompok ahli. Siswa yang telah mendapatkan topik permasalahan yang sama bertemu dalam satu kelompok atau kita sebut dengan kelompok ahli untuk membicarakan topik permasalah tersebut.
c.       Laporan kelompok. Kelompok ahli kembali ke kelompok asal dan menjelaskan hasil yang didapat dari diskusi para ahli.
d.      Kuis dilakukan mencakup semua topik permasalahan yang dibicarakan tadi
e.       Perhitungan skor kelompok dan menentukan penghargaan kelompok.


3.      Investigasi Kelompok (Group Investigation)
Perencanaan pengorganisasian kelas dengan menggunakan teknik Kooperatif GI adalah kelompok dibentuk oleh siswa itu sendiri dengan beranggotakan 2-6 orang, tiap kelompok bebas memilih subtopik dari keseluruhan unit materi yang akan diajarkan, dan kemudian membuat atau menghasilkan laporan kelompok. Selanjutnya, setiap kelompok mempresentasikan atau memamerkan laporannya kepada seluruh kelas, untuk berbagi dan saling tukar informasi temuan mereka.
Belajar koperatif dengan teknik GI sangat cocok untuk bidang kajian yang memerlukan kegiatan study proyek terintegrasi, yang mengarah pada kegiatan perolehan, analisis, dan sintesis informasi dalam upaya untuk memecahkan suatu masalah. Oleh karenanya, kesuksesan implementasi teknik kooperatif GI sangat tergantung dari pelatihan awal dalam pemguasaan ketrampilan komunikasi dan sosial. Tugas-tugas akademik harus diarahkan kepada pemberian kesempatan bagi anggota kelompok untuk memberikan berbagai macam kontribusinya, bukan hanya sekedar didesain untuk mendapat jawaban dari suatu pertanyaan yang bersifat faktual. Implementasi strategi belajar kooperatif GI dalam pembelajaran, secara umum dibagi menjadi enam langkah:
a.       Mengidentifikasi topik dan mengorganisasikan siswa kedalam kelompok
b.      Merencanakan tugas-tugas belajar
c.       Melaksanakan investigasi
d.      Menyiapkan laporan akhir
e.       Mempresentasikan laporan akhir
f.       Evaluasi
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe GI adalah:
a.       Membagi siswa kedalam kelompok kecil yang terdiri dari ± 5 siswa
b.      Memberikan pertanyaan terbuka yang bersifat analitis
c.       Mengajak setiap siswa untuk berpartisipasi dalam menjawab pertanyaan kelompoknya secara bergiliran searah jarum jam dalam kurung waktu yang disepakati.


4.      Model Make a Match (Membuat Pasangan)
Salah satu keunggulan teknik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik, dalam suasana yang menyenangkan.
Penerapan metode ini dimulai dengan teknik, yaitu siswa disuruh mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban atau soal sebelum batas waktunya, siswa yang dapat mencocokan waktunya kartunya diberi poin.
Langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut:      
a.       Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep/topik yang cocok untuk sesi review (satu sisi kartu berupa kartu soal dan sisi sebaliknya berupa kartu jawaban.
b.      Setiap siswa mendapat satu kartu dan memikirkan jawabanatau soal dari kartu yang dipegang
c.       Siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (kartu soal/kartu jawaban)
d.      Siswa yang dapat mencocokan kartunya sebelum batas waktu diberi poin
e.       Setelah satu babakk kartu dikocok lagi agar setiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya.
f.       Kesimpulan

5.      Model TGT (Teams Games Tournaments)
Dalam TGT siswa  memainkan permainan dengan anggota tim lain untuk memperoleh skor bagi tim mereka masing-masing. Permainan dapat disusun guru dalam bentuk kuis berupa pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi pelajaran. Kadang-kadang dapat diselingi dengan pertanyaan yang dapat berkaitan dengan kelompok (identitas kelompok mereka).
TGT adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 5-6 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin, suku bangsa atau ras yang berbeda. Guru menyajikan materi, dan siswa bekerja dalam  kelompok mereka masing-masing. Dalam kerja kelomppok guru memberikan LKS kepada setiap kelompok. Tugas yang diberikan dikerjakan bersama-sama dengan anggota kelompoknya. Apabila ada dari anggota kelompoknya yang tidak mengerti dengan tugas yang diberikan, maka anggota kelompok yang lain bertanggungjawab untuk memberikan jawaban atau menjelaskannya, sebelum mengajukan pertanyaan tersebut kepada guru.

6.      Model Struktural
Menurut pendapat Spencer dan Miguel Kagan bahwa terdapat enam komponen utama didalam pembelajaran kooperatif tipe struktural. Keenam komponen itu adalah:
a.       Struktur dan konstruk yang berkaitan
b.      Prinsip-prinsip dasar
c.       Pembentukan kelompok dan pembentukan kelas
d.      Kelompok
e.       Tata kelola
f.       Ketrampilan sosial

3.      MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK
1.      Latar Belakang Pembelajaran Tematik
Berdasarkan panduan KTSP,pengelola kegiatan pembelajaran pada kelas awal sekolah dasar dalam mata pelajaran dan kegiatan belajar pembiasaan dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran tematik dan diorganisasikan sepenuhnya oleh sekolah /madrasah. Dengan demikian, kegiatan menganalisis kopetensi dasar,hasil belajar dan indicator tidak perlu dilakukan secara tersendiri karena dapat dilaksanakan berbarengan dengan penetuan jaringan tema.tema- tema yang biasa dikembangkan di kelas awal sekolah mengacu kepada prinsip-prinsip sebagai berikut:
1.      Pengalaman mengembagkan tema dalam kurikulum di sesuaikan dengan mata pelajaran yang akan di kembangkan.
2.      Dimulai dari lingkugan yang terdekat dengan anak (expanding community approach)
3.      Dimulai dari hal-hal yang mudah menuju yang sulit, dari hal yang sederhana menuju yang kompleks, dan dari hal yang konkret menuju yang abstrak.
        Dalam implementasi KTSP, telah dilakukan sebagai studi yang mengarah pada peningkatan efisiensi dan efektifitas layanan dan pengembangan sebagai konsekensi dari suatu inovasi pembelajaran. Sebagai salah satu bentuk efisiensi dan efektivitas implementasi kurikulum itu, yaitu dengan dimunculkannya sebagai model implementasi kurikulum. Model pembelajaran tematik merupakan salah satu model implementasi kurikulum yang dianjurkan pada tingkat satuan pendidikan sekolah dasar model pembelajaran tematik yang hakikatnya merupakan suatu system pembelajaran yang memungkinkan siswa baik secara individual maupun secara kelompok aktif mencari,menggali mengeksplorasi, dan menemukan konsep serta prinsip- prinsip secara holistic,autentik,dan berkesinambungan.
2.      Pengertian Pembelajaran Tematik
            Pembelajaran tematik merupakan salah satu model dalam pembelajaran terpadu(integrated instruction)yang merupakan suatu system pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip keilmuan secara holistik,bermakna, dan autentik.pembelajaran terpadu berorientasi pada praktik pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan siswa. Pendekatan ini berangkat dari teori pembelajaran yang menolak proses latihan atau hafalan (drill) sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak. Teori pembelajaran ini dimotori pada tokoh psikologi gestalt,ternaksuk piaget yang menekankan bahwa pembelajaran itu haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak. Pendekatan pembelajaran terpadu lebih menekankan pada penerapan konsep belajarsambil melakukan sesuatu.(learnimg by doing)
            Model pembelajaran tematik adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatantematik yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman bermakna pada siswa. Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran tematik, siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan  menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya.fokus perhatian dalam pembelajara tematik terletak pada proses yang ditempuh siswa saat berusaha memahami isi pelajaran sejalan dengan bentuk-bentuk keterampilan yang harus dikembangkanya.
            Pendekatan pembelajaran tematik ini bertolak dari satu tema yang dipilih dan dikembangkan oleh guru bersama siswa dengan memperhatiakan keterkaitanya dengan isi mata pelajaran. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan(poerwadarminta, 1983). Tujuan dari adanya tema ini bukan hanya untuk menguasai konsep-konsep dalam suatu mata pelajaran, akan tetapi juga keterkaitanya dengan konsep-konsep dengan mata pelajaran lain.
Dengan adanya tema ini akan memberikan banyak keuntungan, diantaranya:
1.      Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema
2.      Siswa dapat mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kopetensi dasar antara mata pelajaran dalam tema yang sama
3.      Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan
4.      Kopetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa.
5.      Siswa dapat lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas
6.      Siswa dapat lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkanya suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari mata pelajaran lain
7.      Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara terpadu dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan atau pengayakan

3.      Landasan Pembelajaran Tematik
Landasan-landasan pembelajaran tematik disekolah dasar meliputi landasan filosofis, landasan psikologis, dan landasan yuridis.
·         Secara filosofis, kemunculan pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat berikut:
1.      Progresivisme
Aliran progresivisme memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas ,pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah(natural)dan memerhatikan pengalaman siswa

2.      Konstruktivisme
Aliran konruktivisme melihat pengalaman langsung siswa(direct experiences)sebagai kunci dalam pembelajaran. Dalam hal ini materi pembelajaran perlu dihubungkan dengan pengalaman siswa. Pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia

3.      Humanisme
Aliran humanistikmemelihat siswa dari segi keunikan/kekhasanya, potensinya, dan motivasi yang dimilikinya.
·         Landasan psikologis terutama berkaitan dengan pesikologi perkembangan peserta didik dan psikologi belajar. Pesikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi/materi pembelajaran tematik.psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi/materi pembelajaran tematik tersebutdisampaikan kepada siswa dan bagaimana siswa harus mempelajari
·         Landasan yuridis berkaitan dengan berbagai kebijakan atau peraturan yang mendukung pelaksanaan pembelajarantematik disekolah dasar. Dalam UU No 23tahun 2002 tentang perlindungan anak dinyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan penjagaan dalam rangka mengembangkan pribadinya dan tingkat kecerdasan sesuai dengan minat dan bakat

4.      Pentingnya Pembelajaran Tematik
            Model pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar atau pengarahan siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Melalui pembelajaran tematik siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajari secara holistic, bermakna, autantik, dan aktif. Perkembangan fisiknya tidak pernah bisa dipisahkan dengan perkembangan mental, social, dan emosional.
            Apabila dibandingkan dengan pembelajaran konvensional, pembelajaran tematik memiliki beberapa keunggulan,diantaranya:
(1). Pengalaman dan kegiatan belajarsangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak.
(2). Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanan yang pembelajaran tematik bertolakdari minat dan kebutuhan.
(3). Kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi siswa,sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama.
(4).  Membantu mengembangkan keterampila berfikir siswa
(5). Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui siswa seperti kerja sama dalam lingkunganya;
(6). Mengembangkan keterampian social

Manfaat pembelajaran tematik adalah:
1.         Dengan menggabungkan beberapa kopetensi dasar dan indikator serta isi mata pelajaran akan terjadi penghematan, karena tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan
2.         Siswa dapat melihat hubungan-hubungan yang bermakna sebab isi/materi pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat , bukan tujuan akhir.
3.         Pembelajaran tidak terpecah-pecah karena siswa dilengkapi dengan pengalaman belajar yang lebih terpadu sehingga akan mendaapat pengertian mengenai proses dan materi yang lebih terpadu juga.
4.         Memberikan penerapan-penerapan dari dunia nyata, sehingga dapat mempertinggi kesempatan transfer belajar(transfer of learning)
5.         Dengan adanya pemaduan antar mata pelajaran , maka penguasan materi pembelajaran akan semakin baik dan meningkat.

5.      Karakteristik Model Pembelajaran Tematik
Sebagai suatu model pembbelajaran disekolah , pembelajaran tematik memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
1.      Berpusat pada siswa (studens centered)
Hal ini sesui dangan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar, sedangkan guru lebih berperan sebagai fasilitator, yaitu memberikan kemudahan-kemudahan pada siswa untuk melakukan aktivitas belajar.
2.      Memberikan pengalaman langsung(direct experience)
Dengan pengalaman langsung ini, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkret) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak.
3.      Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas
Dalam pembelajaran tematik pemisahan antara mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Fokos pembelajaran diarahkan pada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.
4.      Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran
Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian siswa dapat memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari
5.       Bersifat fleksibel
Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) dimana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan kehidupan linkungan dimana sekolah dan siswa berada.
6.      Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa
Siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan minat dan kebutuhanya.
7.      Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan.

6.      Rambu-rambu Pembelajaran Tematik.
Dalam pelaksanan pembelajaran tematik yang harus diperhatikan guru adalah sebagai berikut:
1.      Tidak semua mata pelajaran harus dipadukan
2.      Dimungkinkan terjadi penggabungan kopetensi dasar lintas semester
3.      Kopetensi dasar yang tidak dapat dipadukan, jangan dipaksakan untuk dipadukan. Kopetensi dasar yang tidak di integrasikan dibelajarkan secara tersendiri
4.      Kopetensi dasar yang tidak tercakup pada tema tertentu harus tetap diajarkan baik dengan tema lain maupun disajikan secara tersendiri
5.      Kegiatan pembelajaran ditekan kan pada kemampuan pembaca,menulis, menghitung serta menanamkan nilai moral.
6.      Tema- tema yang dipilih disesuaikan dengan karakteristik siswa, minat, lingkungan, dan daerah setempat.

7.      Ruang lingkup Pembelajaran Tematik
            Ruang lingkup Pembelajaran Tematik meliputi seluruh mata pelajaran kelas I, II, III sekolah dasar, yaitu pada mata pelajaran pendidikan agama, Bahas Indonesia, matemamatika. Ilmu pengetahuan alam, pendidikan kewarganegaraan, ilmu pengetahuan social, seni budaya dan kertrampilan, serta pendidikan jasmani, olah raga, dan kesehatan.

8.      Implementasi Pembelajaran Tematik
            Dalam merancang pembelajaran tematik disekolah bisa dilakukan dengan dua cara:
Pertama dimulai dengan menetapkan terlebih dahulutema-tema tertentu yang akan dikerjakan, dilanjutkan dengan mengidentifikasi dan menemtukan kompetensi dasar pada beberapa mata pelajaran yang diperkirakan relefan dengan tema-tema tersebut. Tema-tema ditetapkan dengan memerhatikan lingkungan yang terdekat dengan siswa. Mulai dari hal yang mudah menuju yang sulit, dari hal yamng sederhana menuju yang kompleks.dari hal yang kongkret menuju yang hal yang abstrak.
Kedua dimulai dengan mengidentifikasi kopetensi dasar dari beberapa mata pelajaran yang memiliki hubungan, dilanjutkan dengan penetapan tema pemersatu.
Alur atau langkah-langkah dalam pengembangan rencana pelaksanan pembelajaran tematik meliputi tuju tahap yaitu:
1.      Menetapkan mata pelajaran yang akan di padukan
Tahap ini sebaiknya dilakukan setelah membuat pemetaan kompetensi dasar secara menyeluruh.pada saat menetapkan beberapa mata pelajaran yang akan dipadukan sebaiknya sudah disertai dengan alasan atau rasional yang berkaitan dengan pencapaian kompetensi dasar oleh siswa dan kebermaknaan belajar.
2.      Mempelajari kopetensi dasar dan indikator dari mata pelajaran yang akan dipadukan
Pada tahap inidilakukan pengkajian atas kopetensi dasar pada jenjang dan kelas yang sama dari beberapa mata pelajaran yang memungkinkan untuk diajarkan dengan menggunakan paying sebuah tema pemersatu
contoh kopetensi dasar dan indikator dari mata pelajaran yang akan dipadukan
Bahas indonesia
matematika
Pengetahuan alam
Kerajinan tangan dan kesenian
Mendengarkan
Bilangan cacah sampai dengan tiga angka
Makluk hidup dan proses kehidupan
Rupa:
Gambar ekspresi
berbicara
Pengukuran:
Panjang,berat
Benda dan sifat
Gambar imajinatif
membaca

Energy dan perubahanya
Objek imajinatif
menulis


Ritme(warna,garis)
 
Contoh kopetensi dasar dan indikator dari mata pelajaran yang telah dipadukan
Bahasa indonesia
matematika
Pengetahuan alam
Kerajinan tangan dan kesenian
Mendeskripsikan binatang disekitar(secara lisan)
Memahami konsep urutan bilangan cacah
Mendiskripsikan bagian-bagian yang tampak pada hewan disekitar rumah dan sekolah
Menanggapi berbagai unsure rupa :bintik, garis, bidang, warna, dan bentuk.
3.      Memilih dan menetapkan tema/topic
Dalam memilih dan menetapkan tema dan terdapat beberapa hal yang perlu pertimbangan, dianteranya
a)      tema yang dipilih harus memungkinkan terjadinya proses berpikir pada diri siswa serta terkait dengan cara dan kebiasaan belajarnya
b)      ruang lingkup tema disesuaikan disesuaikan dengan usia dan perkembangan siswa, termaksud minat, kebutuhan, dan kemampuanya.
c)      Penataan tema dimulai dari lingkungan yang terdekat dan dikenali oleh siswa.
4.      Membuat matrik atau bagan hubungan kopetensi dasar dan tema/topic
Pada tahap ini dilakukan pemetaan keterhubungan kopetensi dasar masing-masing mata pelajaran yang akan dipadukan dengan tema pemesatu Pemetaan tersebut dapat dibuat dalam bentuk bagan dan matrik jaringan tema yang memperlihatkan kaitan antara tama pemersatu dengan kopetensi dasar dari setiap mata pelajar. Tidak hanya itu, dalam pemetaan ini harus tampak juga hubungan tama pemersatu dengan indikator-indikator pencapaianya.

5.      Menyusun silabus pembelajaran tematik
Dalam menyusun silabus perlu didasarkan pada matriks/bagan keterhubungan yang telah dikembangkan. Kopetensi dasar setiap mata pelajaran yang tidak bisa dikaitkan dalam pembelajaran tematik disusun dalam silabus tersendiri. Format silabus disusun dalam bentuk matriks dan memuat tentang
1)      Mata pelajaran yang akan dipadukan
2)      Kopetensi dasar
3)      Indikatornya yang akan dicapai
4)      Kegiatan pembelajaran berisi tentang materi pokok, strategi pembelajaran, dan langkah-langkah pembelajaran yang akan dilakukan, dan alokasi waktu yang dibutuhkan
5)      Sarana dan sumber, yaitu diisi dengan media/sarana yang akan digunakan dan sumber-sumber bacaan yang dijadikan bahan atau rujukan dalam kegiatan pembelajaran,
6)      Penilaian, yaitu jenis dan bentuk evaluasi yang akan dilakukan
6.      Penyusunan rencana pembelajaran tematik
Penyusunan pembelajaran ini merupakan realisasi dari pengalaman siswa yang telah ditetapkan dalam silabus pembelajaran, komponen rencana pembelajaran tematik meliputi:
a.       Tema atau judul yang akan dipelajari dalam pembelajaran
b.      Identitas mata pelajaran (nama mata pelajaran yang akan dipadukan , kelas, semestsr, dan waktu/banyaknya jam pertemuan yang dialokasikan)
c.       Kopetensi dasar dan indikator yang hendak dicapai
d.      Materi pokok beserta uraianya yang perlu dipelajari siswa dalam rangka mencapai kopetensi dasar dan indikator
e.       Strategi pembelajaran (kegiatan pembelajaran secara kongkret yang harus dilakukan siswa dalam berinteraksi dengan materi pembelajaran dan sumber belajar untuk menguasai kopetensi dasar dan indikator)
f.       Alat dan media yang digunakan untuk memperlancar pencapaian kopetensi dasar, serta sumber bahan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran tematik sesuai dengan kopetensi dasar yang harus dikuasai
g.      Penilaian dan tindak lanjut (prosedur dan instrument yang akan digunakan untuk menilai pencapaian belajar siswa serta tindak lanjut hasil penilaian
7.       Pengelolaan data
a.       pengaturan tempat belajar
pengatuan tempat belajar dikelas meliputi pengaturan meja, kursi, lemari, perabotan kelas, alat, media, atau sumber belajar lainya yang ada dikelas. Untuk pelaksanan pembelajaran tematik, pengaturan ruang kelas harus fleksibel atau mudah di ubah-ubah oleh siswa disesuaikan dengan tuntutan strategi pembelajaran yang akan digunakan. Kadang-kadang bisa bentuk berjajar, atau berkelompok. Untuk mengingatkan intensitas interaksi belajar antar siswa. Disarankan ruang kelas tidak dalam bentuk berjajar/berbaris
b.      pengaturan siswa
pengaturan siswa dapat dilkukan secara klasikal (kelompok besar), kelompok kecil dan perorangan (individu). Kegiatan pembelajaran klasikal dapat digunakan apabila lebih banyak bentuk penyajian bahan pembelajaran dari guru, terutama ditunjukan untuk memberikan informasi yang lebih bersifat informatif dan factual tentang suatu tema yang dibahas atau sebagai pengantar proses pembelajaran tematik.
Ppengaturan siswa secara perorangan(individu)dalam pembelajran tematik dapat mengarahkan proses pembelajaran pada optimalisasi kemampuan siswa secara individu dan dilandasi oleh prinsip-prinsip belajar tuntas (mastery learning). Kegiatan pembelajaran perorangan bisa digunakan untuk menampung kegiatan pengayaan dan perbaikan. Program pengayaan (anrichment)perlu diberikan kepada siswa yang memiliki prestasi atau kemampuan yang melebihi dari teman sekelasnya. Sedangkan perbaikan (remedial) dilaksanakan untuk membantu siswa yang belum menguasai kopetensi dasar, kurang berhasil dan prestasinya dibawah rata-rata teman sekelas.
c.       Pemilihan bentuk kegiatan
Dalam pembelajaran tematik bentukbentu kegiatan dimulai dari kegiatan membuka pelajaran, menjelaskan isi tema, mengajuakan pertanyaan-pertanyaan,memberikan penguatan, mengadakan variasi mengajar sampai dengan menutup pelajaran.
d.      Pemilihan media pembelajaran
Dalam kegiatan pembelajaran tematik perlu juga diperhatikan mengenai optimalitas menggunakan media pembelajaran yang bervariasi. Beberapa nilai yang dapat dipetik dari penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran tematik diantaranya:dapat mengkongkretkan konsep-konsep yang abstrak menhadirkan objek-objek yang terlalu bahaya atau sukar didapat didalam lingkungan belajar, menampilkan objek yang terlalu besar atau terlalu kecil, dan memperhatikan gerakan yang terlalu cepat atau lambat.pembelajaran tematik dapat divariasikan didalam penggunaan media visual, media,audio, dan media audio visual.yang lebih sempurna menggunakan media audio-visual.
e.       Penilaian
Penilaian penilaian dalam pembelajaran tematikmencakup prosedur yang digunakan, jenis dan bentuk penilaian serta alat evaluasi yang digunakan. Model penilaian disesuaikan dengan penilaian berbasis kelas pada kurikulum tingkat satuan pendidikan(KTSP)
1)      Prinsip penilaian
Prinsip penilaian  pembelajaran tematik adalahprinsip integral dan komperhensip yakni penilaian dilakukan secara utuh dan menyeluruh terhadap semua aspek pembelajaran,baik pengetahuan, keterampilan, maupun sikap dan nilai. Prinsip kesinambungan, yaknipenilaian dilakukan secara berencana, terus menerus dan bertahap untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan tingkah laku siswa sebagai hasil dari kegiatan belajar.
2)      Objek penilaian
Objek dari penilaian pembelajaran tematik ini mencakup penilaian terhadap proses dan hasil belajar.
3)      Jenis dan alat penilaian
Jenis penilaian pembelajaran tematik dilihat dari segi alatnya terdiri dari (test) dan bukan test(non test)
4)      Laporan hasil penilaian
Laporan hasil penilaian pada dasarnya merupakan laporan kemajuan belajar siswa selama mengikuti pembelajaran selama satu selama satu semester.yang dibuat sebagai pertanggung jawaban sekolah kepada orang tua /wali siswa, komite sekolah, atasan masyarakat dan instasi terkait lainya.

9.      Implikasi Model Pembelajaran Tematik
            Penggunaan model ini berimplikasi pada proses penciptaan sesuatu belajar dan pembelajaran diman siswa mempelajari beberapa mata pelajaran secara terpadu dalam satu tema terpadu.


1.      Implikasi bagi guru
Hal pertama bagi yang harus dilakukan guru adalah memahami model pembelajaran tematik, baik secara konseptual maupun secara praktikal.
Hal-hal yang perlu diperhatikan guru dalam pelaksanan pembelajaran tematik yaitubahwa pembelajaran tematik ini bermakna dan utuh, perlu mempertimbangkan antara lain alokasi waktu setiap tema, perhitungan banyak dan sedikitnya bahan yang ada disekitar lingkungan siswa.
2.      Implikasi bagi siswa
Siswa sebagai objek dan subjek belajar merupakan factor utama keberhasilan pelaksanan pembelajaran tematik. Kesiapan menerima pembelajaran yang mengharuskan adanya keterkaitan atar satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lain merupakan hal muntlak yang harus dipahami.oleh siswa.
3.      Implikasi terhadap buku ajar.
Penerapan model pembelajaran tematik dituntut tersedianya bahan ajar, terutama buku ajar, yang memadai dan dapat memenuhi kebutuhan pembelajaran yang berintegrasi antar satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lain
4.      Implikasi terhadap sarana dan prasarana, sumber belajar,dan media pembelajaran
Hal yang paling dominan dalam kaitanya dengan sarana prasarana yang dibutuhkan dalam penerapan model pembelajaran tematik yaitu tersedianya sumber belajar yang lengkap dengan pengelolaan yang professional.agar pengelolaan sumber belajar berjalan dengan baik, pada masing-masingsekolah atau rayon sekolah perlu didirikan suatu pusat pembelajaran (learning resources center)tempat kusus untuk melaksanakan aktifitas terorganisasi dalam mendesain, mengembangkan, memanfaatkan, mengelola, mengevaluasi, dan meneliti berbagai sumber untuk meningkatkan efektivitas.

4.      MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS WEB (E – LERNING)
            Pembelajaran berbasis web yang popular dengan sebutan Web-Based Education WBE) atau kadang disebut e-learning(electronic learning)dapat didefinisikan sebagai aplikasi teknologi web dalam dunia pembelajaran untuk sebuah proses pendidikan. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa semua pelajaran dilakukan dengan memanfaatkan tehnologi internet dan selama proses belajar dirasakan terjadi oleh yang mengikutinya, maka kegiatan itu dapat disebut sebagai belajar berbasis web.
                        Ada persyaratan utama yang perlu dipenuhi, yaitu adanya akses dengan sumber informasi melalui internet. Selanjutnya, adanya informasi tentang letak sumber informasi yang ingin kita didapatkan.ada beberapa sumber data yang dapat diakses dengan oleh pihak yang memang telah diberi otorisasi pemilik sumber informasi.
Mewujutkan pelajaran berbasis web bukan sekedar meletakkan materi belajar pada web untuk kemudian diakses melalui computer web, namun  juga digunakan bukan hanya sebagai meda alternatif pengganti kertas untuk menyimpan berbagai dokumen atau informasi.Web dgunakan untuk mendapatkan sisi unggul yang tadi telah diungkap. Keunggulan yang tidak memiliki media kertas ataupun media lain.
a.       Implimentasi Pembelajaran Berbasis Web
Proses pembelajaran konvensional tatap muka dilakukan pendekatan student centered learning (SCL) melalui kerja kelompok model ini menuntut partisipasi peserta didik yang tingg.
Untuk merancang dan mengmplementaskan pembelajaran berbasis web, langkahnya sebagai berkui
1.      Sebuah program pendidikan untuk meningkatkan mutu pembelajaran dilingkungan kampus dengan berbasis web. Program ini dilakukan idealnya selama 5-10 bulan dan diibagi menjadi 5tahap.tahap1, 2, dan 5 dilakukan secara jarak jauh dan untuk itu dipilihmedia web sebagai komunikasi. Sedangkan tahap 2 dan 4 dilakukan secara konvensional dengan tatap muka.
2.      Menetapkan sebuah mata kuliah pilihan dijurusan. Pembelajaran tatap muka dilakukan secara rutin tiap minggu pada tujuh minggu pertama. Setelah itu, tatap muka dilakukan setiap 2atau 3 minggu sekali.

b.      Interaksi Tatap Muka dan varian
Ada tiga alasan mengapa forum tatap muka masih dibutuhkan dalam kegiatan pembelajaran ini. Alasanya tersebut adalah:
1.      Perlunya forum untuk menjelaskan maksud dan mekanisme belajar yang akan dilalui bersama secara langsung dengan semua peserta didik. Keberhasilan sebuah proses pembelajaran juga ditentukan ileh pemahaman peserta didik tentang, apa, mengapa, dan bagaimana proses belajar dan mengerjakan tugas akan berlangsung.
2.      Perlunya memberikan pemahaman sekaligus pengalaman belajar dengan mengerjakan tugas secara kelompok dan kolaboratif pada setiap peserta didik.
3.      Perlunya memberikan pelatihan secukupnya dalam menggunakan computer yang akan dugunakan sebagai media komunikasi berbasis web kepada siswa peserta didik.
Para guru dapat merancang pembelajaran berbasis computer dengan mengunakan salah satu bahasa pemprogaman seperti, delpi, pascal, macromedia flash, swiss mx dan lainya. Dengan menggunakan tehnologi informasi seorang guru dapat memanfaatkan computer sebagai total theacing, diman guru hanya sebagai fasilitator dan siswa dapat belajar dengan berbasis computer baik dengan mengunakan model pembelajaran drills, tutorial, simulasi ataupun instructional games.



c.       Pemanfaatan internet sebagai media pembelajaran
            Internet sinkatan dari interconnection and networking,adalah jaringan informasi global, yaitu “the largest global network of computer,thet anables people throughout the world to connect with earch other”. Internet diluncurkan pertama kali oleh J.C.R> licklider dari MIT (Massachusetts Intitute Technologi)pada agustus 1962
Pemanfaatan internet sebagai media pembelajaran memiliki beberapa kelebihansebagai berikut,
1.      Dimungkinkan terjadinya distribusi pendidikan kesemua penjuru tanah air dan kapasitas  daya tamping yang tidak terbatas karena tidak memerlukan ruang kelas.
2.      Proses pembelajaran tidak terbatas oleh waktu seperti halnya tatap muka biasa.
3.      Pembelajaran dapat memilih topikatau bahan ajar yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masing-masing
4.      Lama waktu belajar juga tergantung pada kemampuan masing-masing siswa
5.      Adanya keakuratan dan kekinian materi pembelajaran
6.      Pembelajaran dapat dilakukan secara interaktif, sehingga menarik siswa ;dan memungkinkan pihak berkepentingan(orang tua siswa maupun guru)dapat turut serta menyukseskan proses pembelajaran, dengan cara mengecek tugas-tugas yang dikerjakan siswa secara online
Pembelajaran melalui internet dapat diberikan melalui format (Wulf,1996)diantaranya adalah:
1.      Electronic mail (delivery of course materials,sending in assignments, getting and giving feedback, using a caurse listsrv.i.e.,electronic discussion group
2.      Bulletin boards/newsgroups for discussion of special group,
3.      Downloading of coursing materials or tutorial,
4.      Interactive tutorial on the web,
5.      Real time, interactive conferencing using MOO(Multiuser object Oriented)system of internet realay Chat
Setelah bahan pembelajaran electronik dikemas dan dikemah dan dimasukan kedalam jaringan sehingga dapat diakses melalui internet, maka kegiatan berikutnya yang perlu dilakukan adalah mensosialisasikan ketersadiyaan program pembelajaran tersebut agar dapat diketahui oleh masyarakat luas khususnya para calon peserta didik.

d.      Penggunaan internet dalam pembelajaran
Hal-hal yang dapat difasilitasi oleh adanya internet yaitu
1.      Discovery(penemuan), ini meliputi browsing dan pencarian informasi-informasi tertentu;
2.      Communication(komunikasi) intenetnet menyediakan jaringan komunikasi yang cepat dan murah .
3.      Collaboration (kolaborasi), seiring dengan semakin meningkatnya komunikasi dan kolaborasiantar media elektronik, baik individu mau pun kelompok

e.       Internet sebagai sumber belajar
            Karena internet merupakan sumber informasi utama dan pengetahuan, melalui tehnologi ini kita dapat melakukan beberapa hal,diantaranya untuk:
1.      Menelusuri dan pencarian bahan pustaka
2.      Membangun program Artificial Intellegensi (kecerdasan buatan)untuk memodelkan sebuah rencana pembelajaran;
3.      Member kemudahan untuk mengaksesapa yang disebut dengan Viktual classroom ataupun Victual unufersity
4.      Pemasaran dan promosi hasil karya penelitian.

f.       Internet untuk manajemen pembelajaran
            Diperkirakan pada masa mendatang kehidupan manusia akan banyak ditandai dengan munculnya fenomena information superhighway, semakin melubernya information appliance, tergunakanya digital and victual libraries dalam proses pendidikan dan pembelajaran, dan terwujutnya teleworking yang mengurangi pergerakan manusia ke perkantoran.
Agar pemanfaatan tehnologi informasi tersebut dapat memberikan hasil yang maksimal, maka dibutuhkan kemampuan pengelolaan tehnologi komunikasi dan informasi yang baik yang dapat diperoleh melalui pendidikan dan penelitian baik untuk tingkat membuat kebijakan pendidikan di daerahmaupun pada tingkat sekolah. Pemahaman dan kemampuan menejerial kepala sekolah berkaitan pemanfaatan tehnologi komunikasi dan informasi tersebut merupakan salah satu persyaratan pokok dalam pemilihan kepala sekolah. Henry mintzberg mengemukakan dalam tulisanya yang berjudul “the Manager’s Job:Folklore and Fact “, bahwa tiga peran pimpingan yang meliputi :
·         Peran interpersonal (interpersonal role), yaitu peran yang dituangkan (figurehead role), peran sebagai pimpinan(leader role), dan peran sebagai penghubung(leasion role)
·         Peran informasion(informational role)yaitu peran sebagai monitor(monitor role),peran sebagai disamanitor(dissamanitor  role)peran sebagai juru bicara(spokesman role);
·         Peran pengambilan keputusan(decisional role), yaitu peran sebagai wirausaha (entrepreneur role), peran sebagai pengendali gangguan (disturbance handler role) , peran sebagai yang mengalokasikan sumber daya (resource allocator), dan peran sebagai negosiator(negotiator role)
Simon(1977) mengatakan bahwa proses ada tiga tahap, yaitu:intelligence,design, dan choice, kemudian dia menambahkan dengan implementatiom.

g.      Pemanfaatan e-Learning untuk pembelajaran
            Onni W. purbo(2002) menjelaskan bahwa istilah “e” atau singkatan elektronik dalam e-learning digunakan untuk mendukung usaha-usaha pembelajaran lewat tehnologi elektronik internet, intranet, satelit, tape audio,/video, TV interaktif dan CD rom adalah sebagian dari median elektronik yang digunakan . pembelajaran boleh disampaikan secara ‘asynchronously’(pada waktu yang sama)atau pun’asynchronously’(pada waktu yang berbeda). Materi pembelajaran dan pembelajaran yang disampaikan melalui media ini mempunyai test, grafik, animasi, simulasi, audio, dan video.
Perbedaan pembelajaran Tradisional dengan 'e-elerning,yaitu kelas ‘Tradisional’guru dianggap sebagai orang yang serba tau dan ditugaskan untuk menyalurkan ilmu pengetahuan kepada pelajarnya. Sedangkan didalam pembelajaran ‘e-learning’ focus utamanya adalah pelajar. Pelajar mandiri pada waktu tertentu dan bertanggung jawab untuk pembelajaran. Suasana pembelajaran e-elerning akan memaksa pelajaran memainkan perana yang lebih aktif dalam pembelajaranya. Pelajar membuat perancangan dan mencari materi dengan usaha dan inisiatif sendiri.
Khoe Yao Tung (2000)mengatakan bahwa setelah kehadiran guru/dosen dalam arti sebenarnya, internet akan menjadi suplemen dan komplemen dalam menjadikan wakil dosen/guru yang mewakili suber belajar yang penting didunia.
Cisco (2001)menjelaskan filosofis  e-learning sebagai berikut. Pertama , e-learning merupakan penyampaian informasi, komunikasi, pendidikan, dan pelatihan secara on-line.
Kedua e-learning menyediakan seperangkat alat yang dapat memperkaya nilai belajar secara konvensional (model belajar konvensional), kajian terhadap buku teks, CD-ROM, dan pelatihan berbasis computer)sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan globalisasi.
Ketiga, e-learning tidak berarti menggantikan model belajar konvensional didalam kelas, tetapi memperkuat model belajar tersebut melalui pengayaan content dan pengembangan tehnologi pendidikan.
Keempat, kapasitas siswa amat bervariasi tergantung pada bentuk isi dan cara penyampaianyadengan gaya belajar, maka akan lebih baik kapastas siswa yang pada giliranya akan member hasil yang lebih baik.


h.      Tehnologi pendukung  e-learning
            Dalam praktiknya e-learning memerlukan bantuan teknologi. Karena itu, dikenal istilah computer based learning(CBL), yaitu pembelajaran yang sepenuhnya menggunakan computer ;dan computer assistedlearning(CAL), yaitu pambelajaran yang menggunakan alat bantu utama computer.pada prinsipnya tehnologi tersebut dapat dikelompokan menjadi dua,yaitu:technology based learning dan Technologi based web-learning. technology based learning ini pada prinsipnya terdiri atas audio information Technologies (radio,audio, tipe, voice mail telephone )dan video information technologi(video tape, video text, video messanging)sedangkan Technologi based web-learning pada dasarnya adalah Data informasi Technologies (bulletin board, internet, e-mail, tele-collaboration.

i.        Pengembangan Model e-learning
            Menurut Haughey (rusman,2007)tentang pengembangan e-learning adalah ada tiga kemungkinan dalam pengembangan system pembelajaran berbasis internet, yaitu web course, web centric course, dan web enhanced course.
web course adalah penggunaan internet untuk keperluan pendidikan yang mana mahasiswa dan dosen sepenuhnya terpisah dan tidak diperlukan adanya tatap muka. web centric course adalah penggunaan internet yang memadukan antara belajar jarak jauh dan tatap muka(konvensional)
 web enhanced course adalah pemanfaatan internet untuk menunjang peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukan dikelas.fungsi internet adalah untuk memberikan pengayaan dan komunikasi antara mahasiswa dan dosen.

j.        Kelebihan dan kekuranga e-learning
Petunjuk tentang manfaat penggunaan internet, khusus dalam pendidikan terbuka dan pembelajaran jarak jauh, antara lain:
1.      Tersedianya fasilitas e-moderating dimana pendidik dan peserta didik dapat berkomunikasi secara mudah melalui fasilitas internet secara regular atau kapan sajakegiatan berkomunikasi itu dilakukan dengan tanpa dibatasi oleh jarak,tempat, waktu.
2.      Pendidik dan peserta didik dapat menggunakan bahan ajar atau petunjuk belajar yang terstuktur dan terjatwal melalyi internet, sehingga keduanya bisa saling menilai sampai beberapa jauhbahan ajar dipelajari.
3.      Peserta didik dapat belajar atau me-review bahan pelajaran setiap saat dan dimana saja kalau diperlukan, mengingat bahan ajar tersimpan dikomputer.
4.      Bila peserta didik memerlukan tambahan informasi yang berkaitan dengan bahan yang dipelajarinya,ia dapat melakukan akses diinternet secara lebih indah.
5.      Baik pendidik maupun peserta didik dapat melakukan diskusi melalui internet yang dapat diikuti dengan jumlah peserta yang banyak, sehingga menambah ilmu pengetahuan dan wawasan yang lebih luas.
6.      Berubahnya peran peserta didik dari yang biasa pasif menjadi aktif dan lebih mandiri.
7.      Relative lebih efisien. Misalnya,bagi mereka yang tinggal jauh dari perguruan tinggi atau sekolah konvensional.

                    Walaupun demikian, pemanfaatanya internet untuk pembelajaran atau e-learning juga tidak terlepas dari berbagai kekurangan. Berbagai kritik (bullen,2001, beam, 1997), antara lain:
1.      Kurangnya interaksi antara pendidik dan peserta didik atau bahkan antar sesama peserta didik itu sendiri. Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses pembelajaran.
2.      Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek social dan sebaiknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis /komersial.
3.      Proses pembelajaran cenderung kearah pelatihan dari pada pendidikan
4.      Berubahnya peran pendidik dari yang semula menguasai tehnik pembelajaran konvensional,kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT/ medium computer
5.      Peserta didik yang tidak mempunyai motifasi belajar yang tinggi cenderung gagal.
6.      Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet.
7.      Kurangnya tenaga yang mengetahui dan memiliki keterampilan mengoprasikan internet
8.      Kurangnya personel dalam halpenguasaan bahas pemprogaman computer.

5.      MODEL LESSON STUDI
1.      Hakikat lesson study
Lesson stady merupakan salah satu upaya pembinaan untuk meningkatkan proses pembelajaran yang di lakukan oleh sekelompok guru secara berkolaboratif dan bekesinambungan, dalam merencanakan, melaksanakan, menggopservasi, dan melaporkan hasil refleksi kegiatan pembelajarannya. Lesson study juga merupakan kegiatan yang di lakukan secara berkelanjutan dan merupakan sebuah upaya untuk mengaplikasikan prinsi-prinsi dalam kuality management, yakni memperbaiki proses dan hasil pembelajaran secara terus menerus berdasarkan data. Selain itu lesson study merupakan kegiatan yang dapat mendorong terbentuknya sebuah komonitas belajar (learnig society) yang secara konsisten dan sistematis melakukan perbaikan diri, baik pada tatan indifidu maupun manajerial.



Rounded Rectangle: PLAN (Penencanaan)Rounded Rectangle: DO (Pelaksanaan)                             








 


                                                                 



Rounded Rectangle: SEE (Refleksi)
 


                       
Muliyana (2007) memberikan rumusan tentang lesson stady sebagai salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secra kolaboratif dan berkelanjutan berdasarkan pada prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual realnig untuk membagun komonitas belajar.
Jadi jelasnya lesson stady adalah suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berdasarkan prinsip-prinsi kolegalitas dan mutual rearing untuk membangun  learnig komuniti, kegiatan lesson stady dapat menerapkan berbagai strategi dan metode pembelajaran yang sesuai dengan  situasi, kondisi, dan permasalahan yang di hadapi guru pada setiap satuan pendidikannya masing-masing.
Tujuan dari lesson stady menurut Bell Cerbing dan Bryan Kopp  adalah;
1.      Memperoleh pemahaman yang lebih baik tenteng bagaiman siswa belajar dan guru mengajar
2.      Mempeoleh hasil-hasil pembelajaran
3.      Meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui
4.      Membangun sebuah pengetahuan peragokis, diman seorang guru dapat menimbah pengetahuan dari guru lainnya
Manfaat lesson study adalah;
1.      Guru dapat mendokumentasikan kemajuan kinerjanya
2.      Guru dapat memperoleh feed back dari teman sejawatnya
3.      Guru dapat memublikasikan dan menyebar luaskan hasil akhir dari lesson study yang telah di lakukannya.
Ciri-ciri utama dari lesson study menurut Catherine Lewis (2004) berdasarkan hasil observasi terhadap beberapa sekolah di jepang adalah sebagai berikut;
1.      tujuan bersama untuk jangka panjang. Lesson study didahului oleh adanya kesempatan dari para guru tentang tujuan bersama yang ingin ditingkatkan dalam kurun waktu jangka panjang dengan cakupan tujuan yang lebih luas. Misalnya tentang pengembangan kemampuan akademik siswa, pengembangan kemampuan individual siswa, pemenuhan kebutuhan belajar siswa, pengembangan pembelajaran yang menyenangkan, mengembangkan minat siswa dalam belajar, dan sebagainya
2.      materi pembelajaran yang penting, lesson studi memfokuskan pada materi atau bahan pelajaran yang dianggap penting dan menjadi titik lemah dalam pembelajaran siswa serta sangat sulit untuk dipelajari siswa
3.      studi tentang siswa secara cermat. Focus yang paling utama dari lesson studi adalah pengembangan dan pembelajarab yang dilakukan siswa. Mesalnya, apakah siswa menunjukan minat dan motivasinya dalam belajar, bagaimana siswa bekerja dalam kelompok kecil, siswa melakukan tugas-tugas yang diberikan guru, serta hal-hal lain yang berkaitan dengan aktivitas, serta kondisi dari setiap siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Dengan demikian, bagaimana cara guru dalam mengajar sebuah supervise kelas yang dilaksanakan oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah
4.      observasi pembelajaran secara langsung. Observasi langsung boleh dikatakan merupakan jantungnya lesson studi. Pada pengembangan dan pembelajaran yang dilaksanakan siswa dengan cara melihat, menilai kegiatan pelaksanan pembelajaran (lesson plan) atau hanya melihat dari tayangan video, namun juga harus mengamati proses pembelajaran secara langsung. Penggunaan videotape atau sebagai rekaman biasa saja digunakan hanya sebatas pelengkap, bukan sebagai pengganti.
Keuntungan yang didapat dari pelaksanaan lesson study menurut Caterine lewis(2004)adalah :
1.      memikirkan secara lebih teliti lagi tentang tujuan materi tertentu kepada siswa
2.      memikirkan secara mendalam tentang tujuan-tujuan pembelajaran untuk kepentingan masa depan siswa
3.      menkaji tantang hal-hal terbaaik yang dapat digunakan dalam pembelajaran melalui belajar dari para guru lain (peserta/partisipan lesson study)
4.      belajar tentang isi atau materi pelajaran dari guru lain sehingga dapat menambah pengatahuan tentang apa yang harus diberikan pada siswa
5.      mengembangkan kemampuan dalam belajar, baik pada saat merencanakan pembeajaran maupun selama berlanngsungnya kegiatan pembelajaran
6.      mengembangkan”The eyes to see students” (kodomo wo miru me), dalam arti dengan  dihadirkannya para pengamat atau (observer), pengatan tentang perilaku belajar siswa bisa semakin detail dan jelas.
Sedangkan menurut lesson study project, manfaat lesson study, yaitu;
1.      guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya
2.      guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota/ komunitas lainya,
3.      guru dapat memublikasikan dan menyebarluaskan hasil akhir dari lesson study
Menurut  Mulyana (2007), ada dua lipe penyelenggaraan lesson study, yaitu lesson study berbaasis sekolah dan berbasis MGMP. Lesson study berbasis sekolah dilaksanakan oleh semua guru dari berbagai bidang study dengan kepala sekolah yang bersangkutan dengan tujuan agar kualitas proses dan hasil pembelajaran dari semua mata pelajaran di sekolah yang bersangkutan dapat lebih ditingkatkan.Sedangkan lesson study berbasis MGMP merupakan pengkajian tentang proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh kelompok guru mata pelajaran tertentu, yang dapat dilaksanakan pada tingkat wilayah, kebupaten atau bisa lebih luas lagi.
2.      Perspektif  Historis Lesson study

Menurut laporan Indonesia mathematics dan Science Teacher Education Project-JICT, pelaksanaan lesson study pertama kali dikembangkan oleh para guru pendidikan dasar di Jepang. Lesson study di jepang berkembang sejak awal tahun 1900-an.

Lesson study merupakan tterjemaan dari bahasa jepang, yaitu; jgyokenkyu, yang berasal dari dua kata jugyo yang berarti lesson atau pembelajaran dan kenkyu yang berarti study atau pengkajian. Dengan demikian, lesson study merupakan study atau pengkajian terhadap pembelajaran.

Alasan mengapa lesson study menjadi popular di jepang, kerna  lesson study sangat membantu guru-guru. Walaupun lesson study menyita waktu, tetapi guru-guru memperoleh manfaat yang sangat besar berupa informasi berharga untuk meningkatkan ketrampilan belajar mereka. Dengan kata lain, lesson study dapat membantu guru-guru mengembangkan persahabatan yang kuat. Proses lesson study memerlukan keseriusan, intensitas, dan tangguung jawab guru secra professional, sebab sesuatu dilakukan di sekolah selalu mempengaruhi siswa-siswa.
3.      Keutamaan Lesson study
Keutamaan dari lesson stady adalah dapat meningkatkan keterampilan atau kecakapan dalam melakukan kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru melalui kegiatan lesson stady, yakni belajar dari suatu pembelajaran. Lesson stadi merupakan salah satu bentuk pembinaan guru (in-service)yang dapat dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme guru.
Lesson study merupakan kolaboratif guru dengan siswa dalam merancang pelaksanan pembelajaran beserta research lesson-nya, pelaksanan lesson stadi disertai observasi dan refleksi.
Lesson study mulai diterapkan pada tahun 2004 yang hasilnya menunjukan terjadiya peningkatan profesionalisme guru dalam melakukan pembelajaran disekolah, kolaborasi akademik, dan sebagainya. Efektifitas dan efisiensi program lesson stadi yang ditunjang oleh kegiatan motoring dan evaluasi dengan menggunakan rekaman audio-visual, sehingga para guru dapat mengkaji mutu pembelajaran berdasarkan data dan fakta yang sesungguhnya.
Upaya untuk meningkatkan kualitas guru atau kualitas proses pendidikan pada umumnya telah banyak dilakukan pemerintah melalui berbagai kegiatan penataran, baik yang bersifat regional maupun nasional. Dengan demikian, upaya untuk mengembangkan alternative in-service training guru yang dapat memperkuat pola-pola penataran yang ada perlu dilakukan sehingga proses peningkatan keprofesionalan guru dapat dilakukan secara lebih efektif.
Pada masa awal pengenalan lesson study di Amerika serikat, tidak sedikit para pendidik yang memiliki pandangan keliru atau pandangan yang sempit terhadap makna lesson study. Pandangan tersebut di gambarkan oleh Lewis, Perry, dan Hurd (2003) melalui diagram berikut.
Rounded Rectangle: Perbaikan atau peningkatan kualitas pembelajaranRounded Rectangle: Tujuan utama kualitas model pembelajaran yang di kembangkan meningkat Rounded Rectangle: Gambaran umum lesson study perencanaan pembelajaran, ser ta observasi  dan revisi pembelajaran         









                  (sumber : IMSTEP JICA 2006)
Berdasarkan gamgar di atas dapat disimpulkan bahwa guru-guru di Amerika serikat pada awalnya memahami lesson study hanya terbatas sebagai strategi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pengembangan rencana pembelajaran melalui pengembagan rencana pembelajaran secara kolaboratif, implementasi rencana pembelajaran oleh salah seorang guru, observasi proses pembelajaran, dan melakukan perbaikan pembelajaran berdasarkan hasil refleksi atau masukan-masukan yang diperoleh para diskusi pasca pembelajaran.
4.      Tahap –tahap lesson study
Menurut Wikipedia Ada empat tahap dalam lesson studi yaitu:
1.      Perencanaan
Pada tahap ini para guru yang bergabung dalam lesson study berkolaborasi untuk menyusun RPP yang mencerminkan pembelajaran yang berpusat pada siswa(child center). Perencanaan di awali dengan kegiatan menganalisis kebutuhan (need assessment)dan permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran, seperti tentang:kopetensi dasar,cara membelajarkan siswa(learn how to learn), menyiasati kekurangan fasilitas, media, sarana belajar, dan sebagainya
2.      Pelaksanan
Pada tahap ini, terdapat dua kegiatan utama, yaitu(1). Kegiatan pelaksanan pembelajaran yang dilakukan oleh salah seorang guru yang disepakati atau atas permintaan sendiri untuk mempraktikan perencanan pembelajaran yang telah disusun bersama, (2). Kegiatan pengamatan atau observasi yang dilakukan oleh anggota atau komunitas lesson studi yang lainya (guru, kepada sekolah atau pengawas sekolah , atau undangan lainya yang bertindak sebagai pengamat/observer).
Beberapa hal yang harus di perhatikan dalam tahap pelaksanaan, diantaranya
·         Guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah disusun bersama
·         Siswa di upayakam dapat menjalani proses pembelajaran dalam setting yang wajar dan naturaj, tidak dalam keadaan under pressure yang disebabkan adanya program lesson studi
·         Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, pengamat tidak diperbolehkan menggangu jalanya kegiatan pembelajaran menganggu konsentrasi guru maupun siswa.
·         Pengamat melakukan pengamatan secara teliti terhadap interaksi teantara siswa dengan siswa, siswa dengan bahan ajar, siswa dengan guru, siswa dengan lingkungan lainya, dengan mengunakan instrument pengamatan yang telah disiapkan sebelumnya dan disusun bersama-sama.
·         Pengamat harus dapat belajar dari pembelajaran yang berlangsung dan bukan untuk mengevaluasi guru.
·         Pengamat dapat melakukan perekaman melalui video kamera atau digital foto.
·         Pengamat melakukan pemcatatan tentang perilaku belajar siswa selama pembelajaran berlangsung, misalnya komentar atau diskusi siswa
3.      Refleksi
Kegiatan refleksi dilakukan dalam bentuk diskusi yang diikuti seluruh peserta lesson studi yang dipandu oleh kepala sekolah atau peserta lainyayang ditunjukan .diskusi dimulai dari penyampaian pesan kesan guru yang telah mempraktikan pembelajaran dengan menyampaikan komentar atau kesan umum maupun kesan khususatas proses pembelajaran yang dilakukanya.
4.      Tindak lanjut.
Pada tataran individual, sebagai temuan dan masukan berharga yang disampaikan pada saat diskusi dalam tahap refleksi(check)tentunya menjadi modal sebagai para guru, baik yang bertindak sebai pengajar maupun observer untuk mengembangkan proses pembelajaran kearah yang lebih baik.
Sedangkan Bill Cerbin Bray of Kopp dari unifersitas Wiscosin mengetengahkan empat tahap dalam lesson study, yaitu:
1.      From a team : membentuk tim sebanyak 3-6 orang yang terdiri atas guru yang bersangkutan dan pihak-pihak lain dan kompeten, serta memiliki kepentingan dengan lesson studi
2.      Develop student learnig goals: angota tim yang  mendiskusikan apa yang akan di belajarkan pada siswa sebagai hasil dari lesson study
3.      Plan the research lesson: guru-guru mendesain pembelajaran guna  mencapai tujuan belajar dan mengantisipasi bagaimana para siswa akan merespon.
4.      Dather esidence of student learning: salah seorang seorang guru tim melaksanakan pembelajaran, sementara yang lainnya melakukan pengamatan, serta mengumpulkan bukti-bukti dari pembelajaran siswa.
5.      Analyze evidence of learning: tim mendiskusikan hasil dan menilai kemajuan dalam pencapaian tujuan belajar siswa.
6.      Repeat the prcess: kelompok merefisi pembelajaran, mengulang tahap-tahap melalui tahapan ke-2 sampai dengan tahapan ke-5 sebagaimana dikemukan di atas, dan tim melalukan sering atas temuan-temuan yang ada.

5.      Pelaksanan Lesson Study
Tahap-tahap dalam lesson study adalah sebagai beriku
1.      Persiapan lesson study
Tahap awal persiapan dapat dimulai dengan melakukan identivikasi masalah pembelajaran yang meliputi materi ajar, theacing materials(hands on)strategi pembelajaran, dan siapa yang yang akan berperan sebagai guru
2.      Pelaksanan lesson study
Sebelum melaksanaan proses pembelajaran, perlu dilakukan pertemuan singkat(briefing)yang dipimpin oleh kepala sekolah.setelah kepala sekolah menjelaskan secara umum kegiatan lessom studi yang akan dilakukan, kemudian guru yang ingin melaksanakan lesson study mengemukakan rencananya secara singkat, informasi ini sangat penting bagi para observasiyang akan dilakukan dikelas.selainguru menyampaikan penjelasan, selanjutnya kepala sekolah mengingatkan kepada para observasi untuk tidak menggangu jalanya proses pembelajaran
3.      Kegiatan observasi dalam lesson study
Agar proses observasi dalam pembelajaran dari suatu lesson study dapat berjalan dengan baik, maka ada beberapa hal yang harus dipersiapkan baik oleh guru maupun observersebelum proses pembelajaran dimulai. Sebelum proses pembelajaran berlangsung, guru dapat memberikan gambaran secara umum apa yang akan terjadi dikelas yakni meliputi informasi tentang rencana pembelajaran, tujun apa , bagaiman hubungan materi ajar hati iyu dengan mata pelajaran secara umum ,bagaiman akedudukan materi ajar dalam kurikulum yang berlaku, dan kemungkina respon siswa yang diperkirakan. Selain itu, observer juga perlu diberikan informasi tentang lembar kerja siswa dan peta posisi tempat duduk yang menggambarkan setting kelas yang digunakan.
4.      Melakukan refleksi




BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Kegiatan pembelajaran dilakukan oleh dua orang pelaku, yaitu guru dan siswa. Perilaku guru adalah mengajar dan perilaku siswa adalah belajar. Perilaku mengajar dan perilaku belajar tersebut terkait dengan bahan pembelajaran. Bahan pembelajaran dapat berupa pengetahuan, nilai-nilai kesusilaan, seni, agama, sikap, dan ketrampilan. Model yang ditemukan dapat diubah, diuji kembali dan dikembangkan, selanjutnya dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran berdasarkan pola pembelajaran yang digunakan.
Kegiatan pembelajaran, dalam implementasinya mengenal banyak istilah untuk menggambarkan cara mengajar yang akan dilakukan oleh guru.

B.     SARAN
Saran penulis bagi pembaca:
1.      Pilihlah model pembelajaran yang tepat dalam kegiatan Proses belajar mengajar
2.      Ikutilah langkah-langkah penggunaan model pembelajaran dengan tepat
3.      Kembangkanlah.












DAFTAR PUSTAKA
Rusman. 2010. Model-Model Pembelajaran (Mengembangkan Profesionalisme Guru). Bandung: Raja wali pers.

1 komentar:

Piten Matatula Putra Tounussa mengatakan...

Pa kira" model dalam pembuatan judul proposal pembelajaran fisika yang bagus gimana ya...?

Poskan Komentar

 
Powered by Blogger